makna implementasi kurikulum

Makna Implementasi Kurikulum
Hilmawan.blogs.uny.ac.id

A. Pengertian Implementasi
Impelentasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaaan sudah dianggap fix. berikat ane akan sedikit info tentang pengertian implentasi menurut para ahli. semoga info tentang pengertian implementasi menurut para ahli bisa bermanfaat.
Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa.”
Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh obyek berikutnya yaitu kurikulum.
Dalam kenyataannya, implementasi kurikulum menurut Fullan merupakan proses untuk melaksanakan ide, program atau seperangkat aktivitas baru dengan harapan orang lain dapat menerima dan melakukan perubahan.
Dalam konteks implementasi kurikulum pendekatan-pendekatan yang telah dikemukakan di atas memberikan tekanan pada proses. Esensinya implementasi adalah suatu proses, suatu aktivitas yang digunakan untuk mentransfer ide/gagasan, program atau harapan-harapan yang dituangkan dalam bentuk kurikulum desain (tertulis) agar dilaksanakan sesuai dengan desain tersebut. Masing-masing pendekatan itu mencerminkan tingkat pelaksanaan yang berbeda.
Dalam kaitannya dengan pendekatan yang dimaksud, Nurdin dan Usman (2004) menjelaskan bahwa pendekatan pertama, menggambarkan implementasi itu dilakukan sebelum penyebaran (desiminasi) kurikulum desain. Kata proses dalam pendekatan ini adalah aktivitas yang berkaitan dengan penjelasan tujuan program, mendeskripsikan sumber-sumber baru dan mendemosntrasikan metode pengajaran yang diugunakan.
Pendekatan kedua, menurut Nurdin dan Usman (2002) menekankan pada fase penyempurnaan. Kata proses dalam pendekatan ini lebih menekankan pada interaksi antara pengembang dan guru (praktisi pendidikan). Pengembang melakukan pemeriksaan pada program baru yang direncanakan, sumber-sumber baru, dan memasukan isi/materi baru ke program yang sudah ada berdasarkan hasil uji coba di lapangan dan pengalaman-pengalaman guru. Interaksi antara pengembang dan guru terjadi dalam rangka penyempurnaan program, pengembang mengadakan lokakarya atau diskusi-diskusi dengan guru-guru untuk memperoleh masukan. Implementasi dianggap selesai manakala proses penyempurnaan program baru dipandang sudah lengkap.
Sedangkan pendekatan ketiga, Nurdin dan Usman (2002) memandang implementasi sebagai bagian dari program kurikulum. Proses implementasi dilakukan dengan mengikuti perkembangan dan megadopsi program-program yang sudah direncanakan dan sudah diorganisasikan dalam bentuk kurikulum desain (dokumentasi).
Implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Artinya yang dilaksanakan dan diterapkan adalah kurikulum yang telah dirancang/didesain untuk kemudian dijalankan sepenuhnya. Kalau diibaratkan dengan sebuah rancangan bangunan yang dibuat oleh seorangInsinyur bangunan tentang rancangan sebuah rumah pada kertas kalkirnya maka implementasi yang dilakukan oleh para tukang adalah rancangan yang telah dibuattadi dan sangat tidak mungkin atau mustahil akan melenceng atau tidak sesuai denganrancangan, apabila yang dilakukan oleh para tukang tidak sama dengan hasil rancangan akan terjadi masalah besar dengan bangunan yang telah di buat karenarancangan adalah sebuah proses yang panjang, rumit, sulit dan telah sempurna darisisi perancang dan rancangan itu. Maka implementasi kurikulum juga dituntut untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang telah direncanakan dalam kurikulumnya untuk dijalankan dengan segenap hati dan keinginan kuat, permasalahan besar akan terjadiapabila yang dilaksanakan bertolak belakang atau menyimpang dari yang telahdirancang maka terjadilah kesia-sian antara rancangan dengan implementasi. Rancangan kurikulum dan impelemntasi kurikulum adalah sebuah sistem danmembentuk sebuah garis lurus dalam hubungannya (konsep linearitas) dalam artiimpementasi mencerminkan rancangan, maka sangat penting sekali pemahaman guruserta aktor lapangan lain yang terlibat dalam proses belajar mengajar sebagai inti kurikulum untuk memahami perancangan kurikulum dengan baik dan benar.

B. Kesimpulan

Implementasi kurikulum adalah suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) suatu aktifitas pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.

Daftar Pustaka
http://rohimzoom.blogspot.co.id/2013/11/implementasi-kurikulum.html
#catatanPeribadi/Pengembangankurikulum

Materi Pembelajaran

Materi Pembelajaran
Hilmawan.blogs.uny.ac.id

A. Materi pembelajaran
Komponen lain yang harus diperhatikan dalam menyusun silabus adalah penentuan materi pembelajaran. Materi pokok harus disusun sedemikian rupa agar dapat menunjang tercapainya kompetensi. Materi pokok adalah pokok-pokok materi pembelajaran yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar. Karena standar materi pokok telah ditetapkan secara nasional, maka materi pokok tinggal disalin dari buku standar kompetensi mata pelajaran. Sementara tugas para pengembang silabus adalah memberikan jabaran atau materi pokok tersebut ke dalam uraian materi pokok atau biasa disebut materi pembelajaran. Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, ketsserampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan dipelajari peserta didik. Secara khusus, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari fakta, konsep, prinsip, prosedur, dan sikap atau nilai (Abdul Gafur, 2004:2).

Selanjutnya, materi pembelajaran atau pokok-pokok materi perlu dirinci atau diuraikan kemudian diurutkan. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam merinci atau menguraikan materi pembelajaran adalah menentukan jenis materi pembelajaran. Isi mata ajar memberikan informasi yang diperlukan dalam pokok bahasan. Pada gilirannya, informasi menumbuhkan pengetahuan yang merupakan tata hubungan antara rincian fakta.

B. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan materi Pembelajaran/bahan ajar tersebut terbagi tiga, yaitu;
(1) prinsip relevansi;
(2) prinsip konsistensi,
(3) prinsip kecukupan

Kriteria pokok pemilihan materi pembelajaran adalah relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus dipelajari peserta didik hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur Reigeluth, ( dalam Abdul Gafur, 2004:4).

C. Jenis-jenis Materi Pembelajaran
1. Pengetahuan, meliputi:
a. Fakta adalah kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan yang dapat dikenali dengan panca indera. Fakta diperoleh dengan cara:
– Memperoleh sendiri dari sumber aslinya. Fakta didefinisikan dengan cara menggambarkan atau menafsirkan dari sumber yang asli
b. Fakta yang diperoleh dari orang yang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam bentuk interaksi reasoning (Penalaran Abstrak)
Konsep adalah hasil penyimpulan tentang suatu hal berdasarkan atas adanya ciri-ciri yang sama pada hal tertentu. Konsep ada kalanya berkaitan dengan sesuatu obyek, sesuatu peristiwa atau berkaitan dengan manusia. Strategi pencapaian konsep: – Strategi pemilihan – Strategi penerimaan
Prinsip adalah suatu pernyataan yang menjelaskan tentang hubungan antara dua konsep atau lebih istilah prinsip kadang-kadang disebut juga dengan aturan atau generalisasi.
2. Prosedur, yaitu materi pembelajaran yang berupa langkah-langkah melakukan suatu kegiatan secara berurut aslinya
3. Keterampilan adalah melakukan suatu jenis kegiatan tertentu. Keterampilan ada 3 macam yaitu :
1) Rangkaian respon atau reaksi, yaitu merupakan rangkaian gerakan-gerakan yang meliputi urutan tertentu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu
2) Koordinasi gerakan, yaitu seseorang dituntut untuk memadukan sejumlah anggota badan untuk melakaukan suatu pekerjaan
3) Pola-pola respon atau reaksi, yaitu berkaitan dengan keterampilan mengorganisasi seluruh keterampilan yang dimiliki dalam mereaksi rangsangan, sehingga dapat dipertunjukan suatu respon baru dalam mereaksi rangsangan
4) Sikap atau nilai yaitu berkaitan dengan sikap atau interest (minat) siswa mengikuti materi pembelajaran yang disajikan guru, nilai-nilai berupa apresiasi (penghargaan ) terhadap sesuatu dan penyesuaian perasaaan sosial.
Materi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
a. Materi pembelajaran utama, yaitu materi pembelajaran pokok yang menjadi rujukan wajib (compulsory learning resources) dalam suatu rangkaian kegiatan pembelajaran.
b. Materi pembelajaran penunjang (suplementary reading materials) yaitu materi sekunder atau tersier yang keberadaannya sebagai pelengkap dan pengayaan.
Sifat Materi Pembelajaran
a) Materi pembelajaran bersifat umum yang berisi hal-hal yang harus dimiliki oleh seluruh siswa
b) Materi pembelajaran bersifat khusus yaitu yang diperlukan untuk kepentingan tertentu
c) Materi pembelajaran bersifat deskriptif yang berisi fakta-fakta dan prinsip-prinsip
d) Materi pembelajaran yang bersifat normatif yang berkaitan dengan norma-norma, peraturan, moral dan estetika.

Daftar Pustaka

http://lifeiseducation09.blogspot.co.id/2013/03/materi-pembelajaran.html
*catatanperibadi/pengembangankurikulum2015

Standar Nasional Pendidikan Tinggi

Standar Nasional Pendidikan Tinggi

Standar Nasional Pendidikan meliputi ; Standar isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.
SKL atau Standar Kompetensi Lulusan adalah bagian dari Standar Nasional Pendidikan yang merupakan kriteria kompetensi lulusan minimal yang berlaku di seluruh wilayah hokum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Fungsi utama SKL yaitu : kriteria dalam menentukan kelulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan, rujukan untuk menyusun standar pendidikan lainnya, serta arah peningkatan kualitas pendidikan.

Secara terperinci, fungsi dan tujuan standar nasional pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
2. Bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
3. Untuk disempurnakan secara terencana, terarah dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional dan global.
A. Pembagian Standar Nasional Pendidikan terdiri dari :

1. Standar Kompetensi Lulusan

• SKL Satuan Pendidikan & Kelompok Mata Pelajaran
• SKL Mata Pelajaran SD-MI
• SKL Mata Pelajaran SMP-MTs
• SKL Mata Pelajaran SMA-MA
• SKL Mata Pelajaran PLB ABDE
• SKL Mata Pelajaran SMK-MAK

2. Standar Isi
Dalam pengembangannya, Standar Isi telah dikembangkan oleh BNSP dan menjadi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk suatu pendidikan dasar dan menengah.
Standar isi adalah cakupan materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai komptensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu
3. Standar Proses
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan, hal ini sebagaimana yang dicantumkan dalam PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 1 ayat 6.

4. Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Standar pendidikan dan tenaga kependidikan adalah kriteri pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan

5. Standar Sarana dan Prasarana
Standar ini merupakan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimum tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekspresi serta sumber belajar lainnya.

6. Standar Pengelolaan
Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan
7. Standar Pembiayaan Pendidikan
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasional satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Biaya operasional pendidikan adalah bagian dari dana pendidikan yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi satuan pendidikan agar dapat berlangsung kegiatan pendidikan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan secara teratur dan berkelanjutan. Dalam rinciannya biaya operasional terdiri dari biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal.

8. Standar Penilaian Pendidikan
Standar Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, sedangkan evaluasi pendidikan adalah pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

B. Fungsi dan Tujuan Standar Pendidikan

a. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu
b. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
c. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Daftar Pustaka
http://viendutzz.blogspot.co.id/2009/11/bab-i-pendahuluan.html
#catatanperibadi/dasar-dasarpengembangankurikulum

model model pengembangan kurikulum

A.pendahuluan
Model – model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru, kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model – model pengembangan kurikulum.

Salah satu fungsi pendidikan dan kurikulum bagi masyarakat adalah menyiapkan peserta didik untuk kehidupan di kemudian hari. Oleh karena itu ada beberapa ciri dasar yang dapat disimpulkan atas penyelenggaraan kurikulum dan pendidikan yaitu sadar akan tujuan, orientasi ke hari depan, dan sadar akan penyesuaian.

Pemahaman tentang kurikulum sendiri merupakan salah satu unsur kompetensi paedagogik yang harus dimiliki seorang guru. Kompetensi paedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran pada peserta didik yang salah satunya kemampuan pengembangan kurikulum.

B. Pengertian Model-Model Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang cukup luas, menurut Nana Syaodih Sukmadinata (200:1) pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi pristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta lambang-lambang lainnya. (Wina Sanjaya 2007:177).

Kurikulum secara umum dapat didefinisikan sebagai rencana (plan) yang dikembangkan untuk dapat tercapainya proses belajar mengajar dengan arahan atau bimbingan sekolah serta anggota stafnya. (H.M. Ahmad, Dkk, 1997: 59)

Pengembangan kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. (H.M. Ahmad, Dkk, 1997: 62)

Menurut Good (1972) dan Travers (1973), model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.

Model atau konstruksi merupakan ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar (Zainal Abidin (2012: 137). Dalam pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoritis tentang suatu proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang salah satu bagian kurikulum. Sedangkan menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia) model adalah pola, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dihasilkan. Dikaitkan dengan model pengembangan kurikulum berarti merupakan suatu pola, contoh dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan pelaksanaan pendidikan/pembelajaran.

Model pengembangan kurikulum adalah model yang digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.

Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia, model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian, model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks, dan model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.

Jadi model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (impelementation), dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan.

C. Jenis Model-Model Pengembangan Kurikulum

Kurikulum sebagai perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara paripurna, khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari perlu dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mempertimbangkan produk yang hendak dicapai, maka dimensi pengembangannya harus mengikuti pola the how bukan the what, yaitu bagaimana muatan yang disusun dalam rancangan pendidikan itu mampu merangkum pengalaman siswa untuk mencapai otonomi intelektuanya, sehingga memberikan kemampuan untuk berpikir secara mandiri dalam memecahkan persoalan baru yang belum pernah diperoleh di sekolah.
PENUTUP

A. Kesimpulan

Peranan kurikulum dalam pembelajaran meliputi peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, serta peranan kreatif. Peranan konservatif yaitu peranan pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Peranan kritis atau evaluatif yaitu memilah kebudayaan dan mempertahankan yang baik, serta mempertimbangkan kembali kebudayaan yang sudah dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sedangkan peranan kreatif berkenaan dengan kreasi manusia menciptakan sesuatu secara dinamis yang terus berkembang selama peradaban dan pendidikan masih ada.

Model pengembangan kurikulum yang dapat digunakan meliputi model administrasi, model grass root, model demonstrasi, model Beauchamp, model hubungan Interpersonal dari Roger, model Tyler, serta model Inverted dari Taba. Model administrasi rencananya berasal dari pejabat, model grass root serta demonstrasi memiliki kemiripan dengan rencana yang berasal dari pendidik, model Beauchamp menelaah erdasarkan langkah-langkah tertentu, model hubungan Interpersonal dari Roger menitikberatkan pada kegiatan kelompok campuran, model Tyler berdasar pada empat pertanyaan pendidikan, dan model Inverted dari Taba menekankan pada kesederhanaan prosedur.

Daftar Pustaka
http://falahterhottss.blogspot.co.id/2014/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html
#catatanpribadi/modelmodelpengembangankurikulum

desain kurikulum

desain kurikulum

            Pengertian desain kurikulum menurut George A. Beauchamp (1975:101) “Curriculum design may be defined as the substance and organization of goal and culture content so arranged as to reveal potential progression through levels of schooling. (Desain kurikulum bisa digambarkan sebagai unsur pokok, komponen hasil atau sasaran dan kultur yang membudaya).

Menurut Oemar Hamalik (1993) pengertian Desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan kegiatan. Fred Percival dan Henry Ellington (1984), pada Hamalik mengemukakan bahwa desain kurikulum adalah pengembangan proses perencanaan, validasi, implementasi, dan evaluasi kurikulum.

Dan menurut Nana S. Sukmadinata) desain kurikulum adalah menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Sedangkan dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.

Jadi menurut saya dari uraian diatas Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip-­prinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksa­naannya

Bentuk-bentuk rancangan kurikulum yang dipakai di persekolahan :

 

  • general statement
  • course of study
  • specific teaching aids
  • descriptions of practice

 

 

 

macam-macam desain antara lain :

 

  • the society-oriented curriculum
  • the child-centered curriculum
  • the knowledge-centered curriculum
  • the eclectic curriculum (Longstreet & Shane)

 

Asumsi-asumsi yang melandasi desain antar lain :

  • tujuan pendidikan
  • sumber tujuan
  • karakteristik peserta didik
  • hakekat proses belajar
  • tipe masyarakat yang dilayani

 

Berikut cara-cara mendesain yang baik sebagai berikut :

 

  1. . Menentukan hal-hal esensial yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan domain.
  2. Identifikasi domain tujuan pembelajaran
  3. Identifikasi tipe peluang belajar yang mungkin
  4. Menentukan desain kurikulum yang cocok
  5. Menyiapkan desain kurikulum secara tentatif
  6. Identifikasi persyaratan implementasi

 

Bentuk-bentuk desain kurikulum

 

  1. Humanistic design

Model kurikulum ini menekankan pada pengembangan kepribadian peserta didik secara utuh dan seimbang antara perkembangan segi intelektual, afektif, dan psikomotor. Kurikulum ini menekankan pengembangan dan kemampuan dengan memperhatikan minat dan kebutuhan peseta didik dn pembelajarannya ber pusat pada peserta didik. Pembelajaran segi-segi sosial, moral, dan afektif mendapat perhatian utama dalam model kurikulum ini. Model kurikulum ini berkembang dan digunakan dalam pendidikan pribadi.

Model kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik, didasari oleh konsep-konsep pendidikan pribadi (personalized Education) yaitu John Dewey (progressive education) dan J.J Rousseou (romantic education), konsep ini lebih memberikan tempat utama kepada peserta didik. Mereka percaya bahwa peserta didik mempunyai potensi-potensi, punya kemampuan dan kekuatan untuk berkembang sendiri. Para pendidik Humanis juga berpegang kepada konsep Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk menciptakan situasi yang permisif, rileks, dan akrab.

 

  1. Subject mattery

Tujuan dari prinsip ini yaitu melatih peserta didik agar mucul-muncul ide-ide bari dari pembahasan yang sudah dijelaskan oleh guru/pembimbing di depan kelas.

Ciri-ciri prinsip ini yaitu lebih memperhatikan isi dan karateristik pelajar atau hasil yang di dapatkan oleh peserta belajar.

Prinsip ini cocok dilakukan di sebuah PT karena isinya lebih logis dan sistematis.

 

  1. The Activity atau Experience Design 

Model desain ini berawal pada abad 18, atas hasil karya dari Rousseau dan Pestalozzi, yang berkembang pesat pada tahun 1920/1930-an pada masa kejayaan pendidikan progresif.

Berikut beberapa ciri utama activity atau experience design. Pertama, struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam mengimplementasikan ciri ini guru hendaknya:

1)        Menemukan minat dan kebutuhan peserta didik,

2)        Membantu para siswa memlih mana yang paling penting dan urgen. Hal ini cukup sulit, sebab harus dapat dibedakan mana minat dan kebutuhan yang sesungguhnya dan mana yang hanya angan-angan. Untuk itu guru harus menguasai benar perkembangan dan karakteristik peserta didik. Karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum tidak dapat disusun jadi sebelumnya, tetapi disusun bersama oleh guru dengan para siswa. Demikian juga tujuan yang akan dicapai, sumber-sumber belajar, kegiatan belajar dan prosedur evaluasi, dirumuskan bersama siswa. Istilah yang mereka gunakan adalah teacher –student planning.

3).        desain kurikulum tersebut menekankan prosedur pemecahan masalah. Di dalam proses menemukan minatnya perserta didik menghadapi hambatan atau kesulitan-kesulitan tertentu yang harus diatasi. Kesulitan-kesulitan tersebut menunjukkan problema nyata yang dihadapi perserta didik. Dalam menghadapi dan mengatasi masalah-masalah tersebut, peserta didik melakukan proses belajar yang nyata, sungguh-sungguh bermakna, hidup dan relevan dengan kehidupannya. Berbeda dengan subject design yang menekankan isi, activity design lebih mengutamakan proses (keterampilan memecahkan masalah).

 

 

Model hipotesisdan adaptasi kurikulum pada abad 21

 

  1. Model kurikulum yang cocok direlevan untuk abab ke 21 adalah desain intergreated , multikultural dan teknologis/kompetensi
  2. Adaptasi kurikulum yang cocok untuk anak pada abad ke 21 yaitu keunikan anak , keunikan peserta, kebutuhan daerah, keragaman etnis yang multikultural, ketrampilan vokasional, futuristik, dan pendidikan untuk semua.

 

 

 

Daftar Pustaka

https://imanbella.wordpress.com/2012/05/29/makalah-tentang-desain-kurikulum/

#catatan-pribadi/desainkurikulum.

 

Teori Belajar

 

Teori Belajar

 

Teori Belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks interen pembelajaran. Teori belajar tergolong menjadi 4 teori belajar.berikut penjelasannya teori-teori tersebut.

  1. Teori behavioristik

Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Jadi teori ini masih menggunakan teori lama seperti khalayaknya orang tua kepada anaknya.

 

 

 

  1. Teori konstruktivistik

 

Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Pengetahuan dalam pengertian konstruktivisme tidak dibatasi pada pengetahuan yang logis dan tinggi. Pengetahuan di sini juga dapat mengacu pada pembentukan gagasan, gambaran, pandangan akan sesuatu atau gejala sederhana. Dalam konstruktivisme, pengalaman dan lingkungan kadang punya arti lain dengan arti sehari-hari. Pengalaman tidak harus selalu pengalaman fisis seseorang seperti melihat, merasakan dengan indranya, tetapi dapat pula pengalaman mental yaitu berinteraksi secara pikiran dengan suatu obyek. Dalam konstruktivisme kita sendiri yang aktif dalam mengembangkan pengetahuan

Dalam proses pembelajaran kontruktivisme Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui prosesnya asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pangetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial, yang unik yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan siswa dalam memperolah gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan.

  1. Teori kognitif

Istilah “Cognitif” berasal dari kata “Cognition” yang padanannya “Knowing”, berarti menge­tahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan dan penggunaan penge­tahuan (Neissser, 1976). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer dan menjadi salah satu domain atau wilayah atau ranah psikologis manusia yang meliputi setiap peri­laku mental yang berkaitan dengan pemaham­an, pertimbangan, pengolahan infor­masi, pe­mecahan masalah, kesenjangan dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (ke­hendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972).

Istilah “cognitive of theory learning” yaitu suatu bentuk teori belajar yang berpandangan bahwa belajar adalah merupakan proses pemusatan pikiran (kegiatan mental) (Slavin (1994). Teori belajar tersebut  beranggapan bahwa individu yang belajar itu memiliki kemampuan potensial, sehingga tingkah laku yang bersifat kompleks bukan hanya sekedar dari jumlah tingkah laku yang sederhana, maka dalam hal belajar me­nurut aliran ini adalah mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Belajar tidak hanya sekedar melibatkan stimulus dan respon. Lebih dari itu, belajar juga melibatkan proses ber­pikir yang sangat kompleks. Yang menjadi priori­tas perhatian adalah pada proses bagai­mana suatu ilmu yang baru bisa ber­asimi­lasi dengan ilmu yang sebelumnya di­kuasai oleh masing-masing individu.

 

  1. Teori Humanistik

Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan si yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada penertian belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya.

 

Daftar Pustaka

http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/

#catatanpribadi/teoribelajar

 

Teori Pendidikan

 

TEORI PENDIDIKAN

            Teori Pendidikan adalah aspek universal yang selalu harus ada dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, ia tidak akan pernah berkembang dan berbudaya disamping itu, kehidupan juga akan menjadi statis tanpa ada kemajuan, bahkan bisa jadi akan mengalami kemunduran dan kepunahan. Oleh karena itu, menjadi fakta yang tak berbantahkan bahwa pendidikan adalah sesuatau yang niscaya dalam kehidupan manusia. 
            Adanya pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Bahkan bisa dikatakan tanpa pendidikan, maka tidak akan asa yang namanya manusia sebab, pendidikan adalah yang membentuk peradapan, dan tanpa peradapan manusia punah. 
            Seiring berjalannya waktu dan dengan semakain pesatnya tingkat intelektual dan kualitas kehidupan, dimensi pendidikan pun menjadi semakin kompleks, dan tentu saja hal itu membutuhkan sebuah desain pendidikan yang juga tepat dan sesuai dengan kondisinya. Oleh karena itu berbagai teori,metode, dan desain pendidikan pun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasi semakin beragam tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan.
            Jika ditinjau dari sejarah, teori-teori dan desain tersebut muncul karena adanya teori yang sudah ada sebelumnya, yang posisinya adalah memperbaiki, merevisi, atau malah menciptakan teori baru. Teoridan desan dalam pendidikan muncul setelah terdapatnya berbagai permasalahan yang terjadi didalam pendidikan itu sendiri. Suatu teori akan muncul apabila terjadi suatu kekurangan yangterdapat didalam dunia pendidikan. 
            Dalam perkembangan teori dan desain pendidikan inilah, berdampak pada suatu sistem yang akan diterapkan dalam suatu penerapan pendidikan yang disepakati pada waktu itu yaitu kurikulum, suatu teori memberikan pandangan-pandangan pada pendidikan, sehingga muncul inovasi dan kreativitas teoretikus untuk melahirkan teori-teori yang lebih kontekstual, yang akan merangsang pula tercipatanya suatu desain pendidikan yang baru yang akan menerapkan teori-teori tersebut dalam suatu sistem.

 

 

 

 

 

Teori pendidikan di bedakan menjadi 4 bagian yaitu :

  1. Pendidikan klasik

            pendidikan klasik adalah pendidikan yang dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Pendidikan ini bermula dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya (pengetahuan, ide-ide atau nilai-nilai) telah ditemukan oleh pemikir terdahulu. Pendidikan hanya berfungsi memelihara atau meneruskan ke genenerasi berikutnya (Sukmadinata, 2009:7). Jadi guru tidak perlu susah-susah mencari ataupun mencipatakan pengetahuan, konsep atau nilai-nilai baru sebab semua sudah tersedia tinggal bagaimana menguasai dan mengajarkannya pada siswa. 
            Dalam teori pendidikan klasik lebih menekankan pada isi pendidikan daripada proses atau bagaimana mengajarkannya. Isi pendidikan tersebut diambil dari disiplin-disiplin ilmu yang telah ditemukan oleh para ahli terdahulu (Sukmadinata, 2009:8). 
            Dalam pendidikan klasik tugas guru dan pengembang kurikulum adalah memilih dan menyajikan materi sesuai dengan tingkat perkembangan perserta didik. Sebelum menyampaikannya pada peserta didik pendidik harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh karena tugas pendidik bukan hanya mengajarkan materi pengetahuan tetapi juga melatih keterampilan dan menanamkan nilai. 
 

 Berikut gambar konsepnya

                   
           
           
 
 

 

 

 

     Penjelasan dari gambar tersebut :

  • Materi : pengetahuan yang berguna bagi siswa terorganisasi secara logis dan jelas
  • Guru : Sebagai ahli dan model.
  • Siswa : Individu yang pasif.
  • Tujuan : menjadi individu yang ilmuan.
  1. Pendidikan Teknologi

Teknologi pendidikan merupakan suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun keduanya ini memiliki perbedaan, yakni dalam teknologi pendidikan lebih mengutamakan pada pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.

Selain itu, dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan berupa objek dan keterampilan yang mengarah pada kemampuan vokasional. Isi disusun dalam bentuk desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan media elektronik, dan para peserta didik belajar secara individual. Sehingga pendidik berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak pada tugas-tugas pengelolaan daripada penyampaian dan pendalaman bahan. Teknologi pendidikan menjadi sumber berkembangnya model kurikulum yakni model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi peserta didik, sehingga pembelajarannya menggunakan media pembelajaran individual, media buku maupun media elektronik.  

 

 

 

 

Berikut gambar konsep teori pendidikan teknologi

 

                   
           
           
 
 

 

 

 

                   Penjelasannya           :

  • Materi : competencies.
  • Guru : Expert ( cepat menguasai dunia kerja )
  • Siswa : active person ( aktif dalam pembelajaran )
  1. Pendidikan Personal

Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan bakat-bakat atau potensi yang dimiliki setiap anak dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Sehingga peserta didik menjadi pelaku utama dalam pendidikan, sedangkan pendidik menempati posisi kedua yakni berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator, dan pelayanan peserta didik

            Teori personal, menjadi dasar berkembangnya model kurikulum humanis, yaitu kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis ini merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual.

 

Berikut gambar konsep teori pendidikan personal :

 

                   
           
           
 
 

 

 

 

                Penjelasannya :

  • Materi : student’s experience.
  • Guru : facilitator
  • Siswa : whole person.

 

  1. Pendidikan Interaksional

            Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerjasama. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak yakni dari pendidik pada peserta didik dan dari peserta didik pada pendidik. Selain itu interaksi juga terjadi pada peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Dalam pendidikan interaksional, belajar bukan sekadar mempelari fakta-fakta, tetapi peserta didik juga mengadakan ekperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh dan memahaminya dalam konteks kehidupan. Pendidikan interaksional ini mendorong timbulnya kurikulum rekontruksi sosial yakni model kurikulum yang bertujuan menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan yang dihadapi manusia. Sehingga siswa didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah sosial yang mendesak dan bekerja sama untuk memecahkannya.

 

Berikut gambar konsep teori pendidikan interksional

 

                   
           
           
 
 

 

 

 

              Penjelasannya           :

  • Materi : particular problem of our comtemporary socio cultural world.
  • Guru : facilitator.
  • Siswa : student learn in his dialogic relationship with others, learning is an independent effort.

 

Daftar pustaka

#catatanpribadi-teoripendidikan

http://baranusapendidikan.blogspot.co.id/2013/09/teori-pendidikan.html

http://sinautp.weebly.com/teori-pendidikan.html

filsafat dalam desain kurikulum

DESAIN KURIKULUM

Manusia dengan potensi akal yang dimiliki adalah pembeda yang jelas dengan makhluk yang lain di muka bumi ini, kemampuan ini memberikan arah bagi manusia untuk melakukan sesuatu secara sempurna. Perkembangan manusia akan berjalan dengan baik jika dilakukan dengan pendidikan yang terarah (formal), walau bisa mendapat pengetahuan tanpa pendidikan seseorang akan tetap mengalami perkembangan tetapi tidak maksimal pada target yang akan dicapai. Dalam proses belajar dan pembelajaran pada umumnya materi pembelajaran diupayakan berorientasi pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (healt) sehingga akan dimiliki empat H, yaitu: pertama, Head kedua, Hand, ketiga Heart, keempat Helth.
Dengan kerangka pemikiran tersebut, maka perlu diperhatikan yaitu ketika ide-ide pengembangan kurikulum terlembagakan dalam sebuah dokumen kurikulum yang pada akhirnya harus diimplementasikan, maka guru disini akan menjadi ujung tombak keberhasilan implementasi kurikulum. Oleh karena itu perhatian hendaknya diletakkan pada desain kurikulum dalam proses pembelajaran, adalah satu hal yang perlu ditanggapi secara serius. Dengan demikian desain kurikulum yang akan datang harus mempertimbangkan hal sebagai berikut; pertama adanya kesesuaian antara kurikulum dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi alamnya, kedua pengembangan kurikulum disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketiga kurikulum harus berisikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan disesuaikan dengan budaya nasional dan budaya daerah masing-masing, keempat kurikulum harus mampu mengantisipasi perubahan sosial dalam masyarakat. Dan yang terakhir, kelima bahwa kurikulum harus memuat nilai-nilai agama yang sesuai dengan peserta didik, sehingga terwujud generasi yang memiliki kapabelitas Iptek dan Imtaq yang paripurna.
Dalam suatu lembaga pendidikan terdapat ruang lingkup kurikulum , namun di ruang lingkup kurikulum tedapat suatu proses pembelajaran. Dalam kurikulum adalah cerminan dari pendidikan berikut gambarnya :

Dalam teori pendidikan mengandung beberapa strukstur pendidikan yang di alami dalam sehari-hari seperti pendidikan teknologi , pendidikan klasik , pendidikan pribadi , pendidikan interaksional. Berikut strukturnya :

Menurut filosofi , teori
Filosofi Teori pendidikan Kurikulum Teori belajar
1. Peresialisme pendidikan klasik Seubjject matter Teori belajar kognitif
2. Proggresifisme Pendiiidikan teknologi Kompetensi behafioristik
3. Proggresifisme Pendidikan personal Humanistik Humanistik
4. Rekontruksionisme Pendidikan intraksional Rekontruksi sosial konstruktifistik

Filsafat dalam kurikulum adalah sebagai berikut :
a. Perenialisme
1. Dasar filsafat : Realisme
2. Tujuan Pembelajaran : Mendidik anak rasional , intelektual
3. Pengetahuan : Pengetahuan permanen
4. Peran guru : Membantu siswa berpikir rasional
5. Metode pembelajaran : Ekspositoris (langkah-langkah sudah ditata dengan jelas)
b. Esensialisme
1. Dasar filsafat : Idealisme dan realisme
2. Tujuan pembelajaran : Anak berkembang intelektualnya dan kompeten
3. Pengetahuan : Keterampilan esensial dan pengetahuan dasar.
4. Peran guru : otorita
5. Metode pembelajaran : Tradisional

c. Progresivisme
1. Progmatisme
2. Anak hidup demokratis
3. Pembimbing
4. Problem solving
d. Rekontruksivisme
1. Progmatisme
2. Rekonstruksi masyarakat
3. Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
4. Agen perubahan
5. Problem solving

Daftar Pustaka
#catatanpribadi-desainkurikulum
https://imanbella.wordpress.com/2012/05/29/makalah-tentang-desain-kurikulum/

LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

Pada dasarnya landasan merupakan fondasi atau sebagai dasar untuk membuat suatu pekerjaan. Setiap pengembangan kurikulum, selain harus berpijak pada sejumlah landasan, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:

1.Prinsip Relevansi

Prinsip ini dipecah menjadi 2 yaitu eksternal dan internal. Eksternal : kompetensi lulusan sesuai dengan pengguna lulusan,sedamgkan Internal : kurikulum harus sesuai dan saling berkaitan.Prinsip relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara komponen tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum,yaitu relevansi keluar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi keluar yaitu tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurkulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Adapun relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian. Relevansi ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.

2.Prinsip Fleksibilitas

Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan pelaksanaan,Diversitikasi kurikulum. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimiliki guru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.

3.Prinsip Kontinuitas

Maju berkelanjutan (satu sub kompetensi selanjutnya),Mata pelajaran ditata secara prereausite.Prinsip kontinuitas berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antarberbagai jenis dan jenjang sekolah serta antartingkatan kelas. Perkembangan dan proses belajar berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau terhenti-henti.

 

4.Prinsip Praktis dan Efisiensi

Mudah diimplementasikan dan kompatibel.Kurikulum harus mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Tepat pelaksanaannya dan menghasilkan sesuatu dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya.

5.Prinsip  Efektifitas

Pemenuhan kebutuhan siswa,sehingga mampu mengembangkan kapabilitas atau kapasitas intelektual siswa untuk menjadi warga negara yg bertanggung jawab dan mampu berkontribusi pada daya asaing bangsa.Keberhasilan  pelaksanaan kurikulum harus diperhatikan, baik kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan kuntitas ditinjau dari komponen-komponen kurikulum, seperti tujuan, isi, proses belajar, dan evaluasi. Sedangkan keberhasilan kualitasnya dilihat dari hasil pelaksanaan kurikulum yang ada.

6.Prinsip khusus

Adapun prinsip khusus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum, antara lain: prinsip keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, penguasaan integrasi nasional, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesamaan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi informasi, pengembangan keterampilan hidup, berpusat pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan.

Kurikulum baik pada tahap kurikulum sebagai ide, rencana, pengalaman maupun kurikulum sebagai hasil dalam pengembangannya harus mengacu atau menggunakan landasan yang kuat dan kokoh, agar kurikulum tersebut dapat berfungsi serta berperan sesuai dengan tuntutan pendidikan yang ingin dihasilkan seperti tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan dalam UU no. 20 tahun 2003.Pada prinsipnya ada empat landasan pokok yang harus dijadikan dasar dalam setiap pengembangan kurikulum, yaitu:

1.Landasan Filosofis, yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Asumsiasumsi filosofis tersebut berimplikasi pada permusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik.

2.Landasan psikologis, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang  dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan mempelajari proses dan karaktersitik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaru besar dalam pengembangan kurikulum, yaitu teori belajar kognitif, behavioristik, dan humanistic.

 

 

3.Landasan sosial budaya, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antrofologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Karakterstik sosial budaya di mana peserta didik hidup  berimplikasi pada  program pendidikan yang akan dikembangkan.

4.Landasan ilmiah dan teknologi, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari hasil-hasil riset atau penelitian dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang menjadi titik  tolak dalam mengembangkan kurikulum. Pengembangan kurikulum membutuhkan sumbangan dari berbagai kajian ilmiah dan teknologi baik yang bersifat hardware maupun software sehingga pendidikan yang dilaksanakan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pngetahuan dan teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#Catatanpribadi:Landasanpengembangankurikulum

https://suwilah.wordpress.com/2014/03/28/landasan-pengembangan-kurikulum-2/

 

konsep pengembangan kurikulum

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup : perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuatkeputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akandigunakan oleh guru dan peserta didik.
Implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum kedalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Realita tersebut memang berposisi sebagai objek periferal dalam proses pengembangan kurikulum nasional. Posisi sebagai objek ini tidak menguntungkan karena ia sering kali diabaikan oleh para otoritas pengembang kurikulum. Sayangnya, kedudukannya yang menjadi objek berubah menjadi subjek dan penentu dalam implementasi kurikulum tetapi tetap tidak dijadikan landasan ketika guru mengembangkan kurikulum. Padahal, keragaman itu berpengaruh langsung terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum, kemampuan sekolah dalam menyediakan pengalaman belajar, dan kemampuan siswa dalam berproses dalam belajar serta mengolah informasi menjadi sesuatu yang dapat diterjemahkan sebagai hasil belajar. Artinya, keragaman itu menjadi suatu variabel bebas yang memilikikontribusi sangat signifikan terhadap keberhasilan kurikulum baik sebagai proses (curriculum as observed, curriculum as experienced, curriculum as implemented,curriculum as reality) tetapi juga kurikulum sebagai hasil.

Istilah :
Proses pengembangan kurikulum ; desain, implementasi, evaluasi, dan penyempurnaan kurikulum
Alasan :
1. Merespon IPTEK
2. Merespon perubahan sosial
3. Memenuhi kebutuhan peserta didik
4. Merespon kemajuan di bidang pendidikan
5. Merespon perubahan sistem pendidikan
Kaitan Pengembangan, Perencanaan, dan Implementasi Kurikulum (Intruksional)

Tujuan Desain Kurikulum Impementasi (Intruksional)
Pengembangan Kurikulum
Perencanaan Kurikulum

Implumentasi
Kurikulum
Masalah Dalam Pengembangan Kurikulum :
1. Cara memilih materi yang akan diajarkan
2. Perbedaan pandangan para pengembang
3. Penerapan kurikulum pada setiap tingkat Penerapan kurikulum pada setiap tingkat
pendidikan
4. Perumusan kurikulum yang fleksibel
5. Pengaruh pergantian pimpinan
6. Insentif untuk penerapan kurikulum
7. Cara memperoleh informasi yang tepat untuk perumusan kurikulum
8. Pemanfaatan sumber daya untuk perbaikan
Proses Perkembangan Kurikulum Melibatkan :
• Guru
• Ahli Kurikulum
• Ahli Pendidikan
• Ahli lain di luar Bidang Pendidikan
• Lulusan
• Siswa
• Pengguna Lulusan

Unsur-unsur yang terdapat dalam Kurikulkum
Sebagai program yang akan dijalani siswa di sekolah :
• Tujuan
• Materi Pembelajaran
• Strategi Pembelajaran
• Sistem Evaluasi
• Hal-hal yang diaktualisasikan di sekolah
Sebagai dokumen, kurikulum terdiri dari :
• Proses pembuatan rencana kurikulum
• GBPP/Silabus
• Perangkat dan buku-buku yang diperlukan dalam proses pembelajaran
Identifikasi Masalah :
Permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di indonesia tentunya akan memberi dampak yang cukup besar terhadap perkembangan pendidikan di bangsa ini, pengimplementasian setiap kurikulum baru tentunya diasaskan pada kebaikan dan kebenaran yang pantas dan layak bagi bangsa ini. Berdasarkan latar belakang didapatkan beberapa masalah yang muncul dalam perkembangan kurikulum di indonesia diantaranya sebagai berikut :

1.Kurikulum mencerminkan falsafah hidup bangsa, ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan itu kelak akan ditentukan oleh kurikulum yang digunakan oleh bangsa tersebut. Permasalahannya adalah apakah setiap kurikulum di Indonesia merupakan cerminan dari falsafah hidup bangsa dan tujuan yang diharapkan oleh negara.

2. Setiap kurikulum yang telah berlaku di Indonesia dari periode sebelum tahun 1945 hingga kurikulum tahun 2006, memiliki beberapa perbedaan sistem. Permasalahannya apakah setiap perbedaan sistem tersebut dilengkapi oleh kurikulum yang diterapkan berikutnya atau merupakan perombakan ulang.

3. Kurikulum merupakan alat (kurikulum yang di implementasikan) untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Permasalahannya apakah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan dan pedoman ini sesuai dengan kebutuhan saat ini.

4. Disadari bahwa pada saat ini, bangsa ini memerlukan langkah perbaikan pendidikan dasar dan menengah yang tidak boleh keliru guna menghadapi peluang

5. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984,1994, 1999, 2004 dan 2006. Permasalahannya adalah setiap perubahan kurikulumtersebut memiliki kekurangan dan kelebihan yang perlu dikaji sehingga ditemukanada kurikulum yang tepat dan tidak perlu dilakukan perubahan.

Batasan Masalah :
Implementasi kurikulum di indonesia dari setiap perubahan tidak kita ketahui ketepatan dan keefektifannya dalam merubah karakter pedidikan bangsa yang sesuai dengan falsafah bangsa untuk kemajuan pendidikan di indonesia. Pembahasan permasalahan terhadap implementasi kurikulum akan dibatasi pada kajian tentang kekurangan dan kelebihan kurikulum tahun 1964 sampai dengan tahun 2013 sehingga ditemukan ada kurikulum yang tepat dan tidak perlu dilakukan perubahan. Pembatasan kajian masalah ini dilakukan untuk menghindari tidak fokusnya pembahasan masalah sehingga pokok tujuan yang diharapkan tidak tercapai.

Daftar pustaka

*catatan pribadi