Teori Pendidikan

 

TEORI PENDIDIKAN

            Teori Pendidikan adalah aspek universal yang selalu harus ada dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, ia tidak akan pernah berkembang dan berbudaya disamping itu, kehidupan juga akan menjadi statis tanpa ada kemajuan, bahkan bisa jadi akan mengalami kemunduran dan kepunahan. Oleh karena itu, menjadi fakta yang tak berbantahkan bahwa pendidikan adalah sesuatau yang niscaya dalam kehidupan manusia. 
            Adanya pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Bahkan bisa dikatakan tanpa pendidikan, maka tidak akan asa yang namanya manusia sebab, pendidikan adalah yang membentuk peradapan, dan tanpa peradapan manusia punah. 
            Seiring berjalannya waktu dan dengan semakain pesatnya tingkat intelektual dan kualitas kehidupan, dimensi pendidikan pun menjadi semakin kompleks, dan tentu saja hal itu membutuhkan sebuah desain pendidikan yang juga tepat dan sesuai dengan kondisinya. Oleh karena itu berbagai teori,metode, dan desain pendidikan pun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasi semakin beragam tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan.
            Jika ditinjau dari sejarah, teori-teori dan desain tersebut muncul karena adanya teori yang sudah ada sebelumnya, yang posisinya adalah memperbaiki, merevisi, atau malah menciptakan teori baru. Teoridan desan dalam pendidikan muncul setelah terdapatnya berbagai permasalahan yang terjadi didalam pendidikan itu sendiri. Suatu teori akan muncul apabila terjadi suatu kekurangan yangterdapat didalam dunia pendidikan. 
            Dalam perkembangan teori dan desain pendidikan inilah, berdampak pada suatu sistem yang akan diterapkan dalam suatu penerapan pendidikan yang disepakati pada waktu itu yaitu kurikulum, suatu teori memberikan pandangan-pandangan pada pendidikan, sehingga muncul inovasi dan kreativitas teoretikus untuk melahirkan teori-teori yang lebih kontekstual, yang akan merangsang pula tercipatanya suatu desain pendidikan yang baru yang akan menerapkan teori-teori tersebut dalam suatu sistem.

 

 

 

 

 

Teori pendidikan di bedakan menjadi 4 bagian yaitu :

  1. Pendidikan klasik

            pendidikan klasik adalah pendidikan yang dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Pendidikan ini bermula dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya (pengetahuan, ide-ide atau nilai-nilai) telah ditemukan oleh pemikir terdahulu. Pendidikan hanya berfungsi memelihara atau meneruskan ke genenerasi berikutnya (Sukmadinata, 2009:7). Jadi guru tidak perlu susah-susah mencari ataupun mencipatakan pengetahuan, konsep atau nilai-nilai baru sebab semua sudah tersedia tinggal bagaimana menguasai dan mengajarkannya pada siswa. 
            Dalam teori pendidikan klasik lebih menekankan pada isi pendidikan daripada proses atau bagaimana mengajarkannya. Isi pendidikan tersebut diambil dari disiplin-disiplin ilmu yang telah ditemukan oleh para ahli terdahulu (Sukmadinata, 2009:8). 
            Dalam pendidikan klasik tugas guru dan pengembang kurikulum adalah memilih dan menyajikan materi sesuai dengan tingkat perkembangan perserta didik. Sebelum menyampaikannya pada peserta didik pendidik harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh karena tugas pendidik bukan hanya mengajarkan materi pengetahuan tetapi juga melatih keterampilan dan menanamkan nilai. 
 

 Berikut gambar konsepnya

                   
           
           
 
 

 

 

 

     Penjelasan dari gambar tersebut :

  • Materi : pengetahuan yang berguna bagi siswa terorganisasi secara logis dan jelas
  • Guru : Sebagai ahli dan model.
  • Siswa : Individu yang pasif.
  • Tujuan : menjadi individu yang ilmuan.
  1. Pendidikan Teknologi

Teknologi pendidikan merupakan suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun keduanya ini memiliki perbedaan, yakni dalam teknologi pendidikan lebih mengutamakan pada pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.

Selain itu, dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan berupa objek dan keterampilan yang mengarah pada kemampuan vokasional. Isi disusun dalam bentuk desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan media elektronik, dan para peserta didik belajar secara individual. Sehingga pendidik berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak pada tugas-tugas pengelolaan daripada penyampaian dan pendalaman bahan. Teknologi pendidikan menjadi sumber berkembangnya model kurikulum yakni model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi peserta didik, sehingga pembelajarannya menggunakan media pembelajaran individual, media buku maupun media elektronik.  

 

 

 

 

Berikut gambar konsep teori pendidikan teknologi

 

                   
           
           
 
 

 

 

 

                   Penjelasannya           :

  • Materi : competencies.
  • Guru : Expert ( cepat menguasai dunia kerja )
  • Siswa : active person ( aktif dalam pembelajaran )
  1. Pendidikan Personal

Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan bakat-bakat atau potensi yang dimiliki setiap anak dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Sehingga peserta didik menjadi pelaku utama dalam pendidikan, sedangkan pendidik menempati posisi kedua yakni berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator, dan pelayanan peserta didik

            Teori personal, menjadi dasar berkembangnya model kurikulum humanis, yaitu kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis ini merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual.

 

Berikut gambar konsep teori pendidikan personal :

 

                   
           
           
 
 

 

 

 

                Penjelasannya :

  • Materi : student’s experience.
  • Guru : facilitator
  • Siswa : whole person.

 

  1. Pendidikan Interaksional

            Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerjasama. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak yakni dari pendidik pada peserta didik dan dari peserta didik pada pendidik. Selain itu interaksi juga terjadi pada peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Dalam pendidikan interaksional, belajar bukan sekadar mempelari fakta-fakta, tetapi peserta didik juga mengadakan ekperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh dan memahaminya dalam konteks kehidupan. Pendidikan interaksional ini mendorong timbulnya kurikulum rekontruksi sosial yakni model kurikulum yang bertujuan menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan yang dihadapi manusia. Sehingga siswa didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah sosial yang mendesak dan bekerja sama untuk memecahkannya.

 

Berikut gambar konsep teori pendidikan interksional

 

                   
           
           
 
 

 

 

 

              Penjelasannya           :

  • Materi : particular problem of our comtemporary socio cultural world.
  • Guru : facilitator.
  • Siswa : student learn in his dialogic relationship with others, learning is an independent effort.

 

Daftar pustaka

#catatanpribadi-teoripendidikan

http://baranusapendidikan.blogspot.co.id/2013/09/teori-pendidikan.html

http://sinautp.weebly.com/teori-pendidikan.html

filsafat dalam desain kurikulum

DESAIN KURIKULUM

Manusia dengan potensi akal yang dimiliki adalah pembeda yang jelas dengan makhluk yang lain di muka bumi ini, kemampuan ini memberikan arah bagi manusia untuk melakukan sesuatu secara sempurna. Perkembangan manusia akan berjalan dengan baik jika dilakukan dengan pendidikan yang terarah (formal), walau bisa mendapat pengetahuan tanpa pendidikan seseorang akan tetap mengalami perkembangan tetapi tidak maksimal pada target yang akan dicapai. Dalam proses belajar dan pembelajaran pada umumnya materi pembelajaran diupayakan berorientasi pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (healt) sehingga akan dimiliki empat H, yaitu: pertama, Head kedua, Hand, ketiga Heart, keempat Helth.
Dengan kerangka pemikiran tersebut, maka perlu diperhatikan yaitu ketika ide-ide pengembangan kurikulum terlembagakan dalam sebuah dokumen kurikulum yang pada akhirnya harus diimplementasikan, maka guru disini akan menjadi ujung tombak keberhasilan implementasi kurikulum. Oleh karena itu perhatian hendaknya diletakkan pada desain kurikulum dalam proses pembelajaran, adalah satu hal yang perlu ditanggapi secara serius. Dengan demikian desain kurikulum yang akan datang harus mempertimbangkan hal sebagai berikut; pertama adanya kesesuaian antara kurikulum dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi alamnya, kedua pengembangan kurikulum disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketiga kurikulum harus berisikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan disesuaikan dengan budaya nasional dan budaya daerah masing-masing, keempat kurikulum harus mampu mengantisipasi perubahan sosial dalam masyarakat. Dan yang terakhir, kelima bahwa kurikulum harus memuat nilai-nilai agama yang sesuai dengan peserta didik, sehingga terwujud generasi yang memiliki kapabelitas Iptek dan Imtaq yang paripurna.
Dalam suatu lembaga pendidikan terdapat ruang lingkup kurikulum , namun di ruang lingkup kurikulum tedapat suatu proses pembelajaran. Dalam kurikulum adalah cerminan dari pendidikan berikut gambarnya :

Dalam teori pendidikan mengandung beberapa strukstur pendidikan yang di alami dalam sehari-hari seperti pendidikan teknologi , pendidikan klasik , pendidikan pribadi , pendidikan interaksional. Berikut strukturnya :

Menurut filosofi , teori
Filosofi Teori pendidikan Kurikulum Teori belajar
1. Peresialisme pendidikan klasik Seubjject matter Teori belajar kognitif
2. Proggresifisme Pendiiidikan teknologi Kompetensi behafioristik
3. Proggresifisme Pendidikan personal Humanistik Humanistik
4. Rekontruksionisme Pendidikan intraksional Rekontruksi sosial konstruktifistik

Filsafat dalam kurikulum adalah sebagai berikut :
a. Perenialisme
1. Dasar filsafat : Realisme
2. Tujuan Pembelajaran : Mendidik anak rasional , intelektual
3. Pengetahuan : Pengetahuan permanen
4. Peran guru : Membantu siswa berpikir rasional
5. Metode pembelajaran : Ekspositoris (langkah-langkah sudah ditata dengan jelas)
b. Esensialisme
1. Dasar filsafat : Idealisme dan realisme
2. Tujuan pembelajaran : Anak berkembang intelektualnya dan kompeten
3. Pengetahuan : Keterampilan esensial dan pengetahuan dasar.
4. Peran guru : otorita
5. Metode pembelajaran : Tradisional

c. Progresivisme
1. Progmatisme
2. Anak hidup demokratis
3. Pembimbing
4. Problem solving
d. Rekontruksivisme
1. Progmatisme
2. Rekonstruksi masyarakat
3. Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
4. Agen perubahan
5. Problem solving

Daftar Pustaka
#catatanpribadi-desainkurikulum
https://imanbella.wordpress.com/2012/05/29/makalah-tentang-desain-kurikulum/

LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

Pada dasarnya landasan merupakan fondasi atau sebagai dasar untuk membuat suatu pekerjaan. Setiap pengembangan kurikulum, selain harus berpijak pada sejumlah landasan, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:

1.Prinsip Relevansi

Prinsip ini dipecah menjadi 2 yaitu eksternal dan internal. Eksternal : kompetensi lulusan sesuai dengan pengguna lulusan,sedamgkan Internal : kurikulum harus sesuai dan saling berkaitan.Prinsip relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara komponen tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum,yaitu relevansi keluar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi keluar yaitu tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurkulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Adapun relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian. Relevansi ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.

2.Prinsip Fleksibilitas

Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan pelaksanaan,Diversitikasi kurikulum. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimiliki guru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.

3.Prinsip Kontinuitas

Maju berkelanjutan (satu sub kompetensi selanjutnya),Mata pelajaran ditata secara prereausite.Prinsip kontinuitas berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antarberbagai jenis dan jenjang sekolah serta antartingkatan kelas. Perkembangan dan proses belajar berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau terhenti-henti.

 

4.Prinsip Praktis dan Efisiensi

Mudah diimplementasikan dan kompatibel.Kurikulum harus mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Tepat pelaksanaannya dan menghasilkan sesuatu dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya.

5.Prinsip  Efektifitas

Pemenuhan kebutuhan siswa,sehingga mampu mengembangkan kapabilitas atau kapasitas intelektual siswa untuk menjadi warga negara yg bertanggung jawab dan mampu berkontribusi pada daya asaing bangsa.Keberhasilan  pelaksanaan kurikulum harus diperhatikan, baik kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan kuntitas ditinjau dari komponen-komponen kurikulum, seperti tujuan, isi, proses belajar, dan evaluasi. Sedangkan keberhasilan kualitasnya dilihat dari hasil pelaksanaan kurikulum yang ada.

6.Prinsip khusus

Adapun prinsip khusus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum, antara lain: prinsip keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, penguasaan integrasi nasional, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesamaan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi informasi, pengembangan keterampilan hidup, berpusat pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan.

Kurikulum baik pada tahap kurikulum sebagai ide, rencana, pengalaman maupun kurikulum sebagai hasil dalam pengembangannya harus mengacu atau menggunakan landasan yang kuat dan kokoh, agar kurikulum tersebut dapat berfungsi serta berperan sesuai dengan tuntutan pendidikan yang ingin dihasilkan seperti tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan dalam UU no. 20 tahun 2003.Pada prinsipnya ada empat landasan pokok yang harus dijadikan dasar dalam setiap pengembangan kurikulum, yaitu:

1.Landasan Filosofis, yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Asumsiasumsi filosofis tersebut berimplikasi pada permusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik.

2.Landasan psikologis, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang  dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan mempelajari proses dan karaktersitik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaru besar dalam pengembangan kurikulum, yaitu teori belajar kognitif, behavioristik, dan humanistic.

 

 

3.Landasan sosial budaya, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antrofologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Karakterstik sosial budaya di mana peserta didik hidup  berimplikasi pada  program pendidikan yang akan dikembangkan.

4.Landasan ilmiah dan teknologi, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari hasil-hasil riset atau penelitian dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang menjadi titik  tolak dalam mengembangkan kurikulum. Pengembangan kurikulum membutuhkan sumbangan dari berbagai kajian ilmiah dan teknologi baik yang bersifat hardware maupun software sehingga pendidikan yang dilaksanakan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pngetahuan dan teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#Catatanpribadi:Landasanpengembangankurikulum

https://suwilah.wordpress.com/2014/03/28/landasan-pengembangan-kurikulum-2/

 

konsep pengembangan kurikulum

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup : perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuatkeputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akandigunakan oleh guru dan peserta didik.
Implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum kedalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Realita tersebut memang berposisi sebagai objek periferal dalam proses pengembangan kurikulum nasional. Posisi sebagai objek ini tidak menguntungkan karena ia sering kali diabaikan oleh para otoritas pengembang kurikulum. Sayangnya, kedudukannya yang menjadi objek berubah menjadi subjek dan penentu dalam implementasi kurikulum tetapi tetap tidak dijadikan landasan ketika guru mengembangkan kurikulum. Padahal, keragaman itu berpengaruh langsung terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum, kemampuan sekolah dalam menyediakan pengalaman belajar, dan kemampuan siswa dalam berproses dalam belajar serta mengolah informasi menjadi sesuatu yang dapat diterjemahkan sebagai hasil belajar. Artinya, keragaman itu menjadi suatu variabel bebas yang memilikikontribusi sangat signifikan terhadap keberhasilan kurikulum baik sebagai proses (curriculum as observed, curriculum as experienced, curriculum as implemented,curriculum as reality) tetapi juga kurikulum sebagai hasil.

Istilah :
Proses pengembangan kurikulum ; desain, implementasi, evaluasi, dan penyempurnaan kurikulum
Alasan :
1. Merespon IPTEK
2. Merespon perubahan sosial
3. Memenuhi kebutuhan peserta didik
4. Merespon kemajuan di bidang pendidikan
5. Merespon perubahan sistem pendidikan
Kaitan Pengembangan, Perencanaan, dan Implementasi Kurikulum (Intruksional)

Tujuan Desain Kurikulum Impementasi (Intruksional)
Pengembangan Kurikulum
Perencanaan Kurikulum

Implumentasi
Kurikulum
Masalah Dalam Pengembangan Kurikulum :
1. Cara memilih materi yang akan diajarkan
2. Perbedaan pandangan para pengembang
3. Penerapan kurikulum pada setiap tingkat Penerapan kurikulum pada setiap tingkat
pendidikan
4. Perumusan kurikulum yang fleksibel
5. Pengaruh pergantian pimpinan
6. Insentif untuk penerapan kurikulum
7. Cara memperoleh informasi yang tepat untuk perumusan kurikulum
8. Pemanfaatan sumber daya untuk perbaikan
Proses Perkembangan Kurikulum Melibatkan :
• Guru
• Ahli Kurikulum
• Ahli Pendidikan
• Ahli lain di luar Bidang Pendidikan
• Lulusan
• Siswa
• Pengguna Lulusan

Unsur-unsur yang terdapat dalam Kurikulkum
Sebagai program yang akan dijalani siswa di sekolah :
• Tujuan
• Materi Pembelajaran
• Strategi Pembelajaran
• Sistem Evaluasi
• Hal-hal yang diaktualisasikan di sekolah
Sebagai dokumen, kurikulum terdiri dari :
• Proses pembuatan rencana kurikulum
• GBPP/Silabus
• Perangkat dan buku-buku yang diperlukan dalam proses pembelajaran
Identifikasi Masalah :
Permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di indonesia tentunya akan memberi dampak yang cukup besar terhadap perkembangan pendidikan di bangsa ini, pengimplementasian setiap kurikulum baru tentunya diasaskan pada kebaikan dan kebenaran yang pantas dan layak bagi bangsa ini. Berdasarkan latar belakang didapatkan beberapa masalah yang muncul dalam perkembangan kurikulum di indonesia diantaranya sebagai berikut :

1.Kurikulum mencerminkan falsafah hidup bangsa, ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan itu kelak akan ditentukan oleh kurikulum yang digunakan oleh bangsa tersebut. Permasalahannya adalah apakah setiap kurikulum di Indonesia merupakan cerminan dari falsafah hidup bangsa dan tujuan yang diharapkan oleh negara.

2. Setiap kurikulum yang telah berlaku di Indonesia dari periode sebelum tahun 1945 hingga kurikulum tahun 2006, memiliki beberapa perbedaan sistem. Permasalahannya apakah setiap perbedaan sistem tersebut dilengkapi oleh kurikulum yang diterapkan berikutnya atau merupakan perombakan ulang.

3. Kurikulum merupakan alat (kurikulum yang di implementasikan) untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Permasalahannya apakah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan dan pedoman ini sesuai dengan kebutuhan saat ini.

4. Disadari bahwa pada saat ini, bangsa ini memerlukan langkah perbaikan pendidikan dasar dan menengah yang tidak boleh keliru guna menghadapi peluang

5. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984,1994, 1999, 2004 dan 2006. Permasalahannya adalah setiap perubahan kurikulumtersebut memiliki kekurangan dan kelebihan yang perlu dikaji sehingga ditemukanada kurikulum yang tepat dan tidak perlu dilakukan perubahan.

Batasan Masalah :
Implementasi kurikulum di indonesia dari setiap perubahan tidak kita ketahui ketepatan dan keefektifannya dalam merubah karakter pedidikan bangsa yang sesuai dengan falsafah bangsa untuk kemajuan pendidikan di indonesia. Pembahasan permasalahan terhadap implementasi kurikulum akan dibatasi pada kajian tentang kekurangan dan kelebihan kurikulum tahun 1964 sampai dengan tahun 2013 sehingga ditemukan ada kurikulum yang tepat dan tidak perlu dilakukan perubahan. Pembatasan kajian masalah ini dilakukan untuk menghindari tidak fokusnya pembahasan masalah sehingga pokok tujuan yang diharapkan tidak tercapai.

Daftar pustaka

*catatan pribadi